TUTORIAL

Rabu, 04 April 2012

Anak Kecil Berkaos Merah di Semenit Lampu Merah

Bismillah..

Kemarin seperti biasa, rutinitas harian pergi ke kampus untuk menuntaskan beberapa urusan. Iya, setiap hari selalu saja ada urusan yang merangkai hariku. Saat itu pukul 13.00 di handphoneku. Saya berangkat dari rumah dengan naik becak si bapak langganan. Setelah itu melanjutkan rute naik pete-pete 05 menuju kampus Unhas. Di perjalanan tepatnya di depan lampu merah Mesjid Raya, muncullah kemudian anak kecil berkaos merah, kira-kira umurnya 12 tahun. Dia menyanyi-menyanyi di sudut pintu pete-pete yang kutumpangi istilah kerennya 'mengamen'. Lagu apa yang didendangkan saya tidak tahu, dengarpun tak pernah. Semenit lebih kalo tidak salah dia menyanyi tapi saya cuma diam sambil sesekali menatap si anak.

Menit pertama ia menyanyi dengan lantang tanpa peduli fals atu kagak, beberapa detik kemudian yang terjadi adalah pertarungan hebat dalam hatiku. Apakah saya harus memberinya uang atau tidak. Dia masih menyanyi sambil sesekali menatapku. Hampir 30 detik terus ia menyanyi, saya memalingkan wajah darinya dan menatap lampu merah yang tidak lama lagi akan hijau. Saya masih juga berkutat dengan hati dan pikiranku. Apakah harus memberinya uang atau tidak. Saya selalu ingat slogan pemerintah sih. "Jangan memberi anak jalanan uang"

Dalam Otakku: "Kasi saja anak itu uang, supaya dia tidak menyanyi lagi. Kasian kan". Kemudian ada pikiran lain yang berbicara: "Kasian sih kasian, tapi kalo kamu kasi dia uang dia bakal muncul lagi di lampu merah itu, nanti dia mau jadi apa kalo ngamen terus", si otak lain berbicara lagi: "Kasi saja, kasian tuh tidak ada penumpang lain yang peduli, si supir pun cuma senyam-senyum tuh liat si anak. Masa kamu nda kasian".

Wedew, bayangkan hanya dalam waktu semenit saya bisa kebingungan begitu. Saya mau kasih anak itu uang, tapi saya takut dia malah keenakan dengan mengamen. AH, what i have to do?

Semenit pun lewat dan lampu lalu lintas berubah hijau, tandanya saya berpisah otomotis dengan anak itu. Menyisakan sedikit penyesalan, saya pun kembali menatap jalanan.

Hima Rain