TUTORIAL

Minggu, 26 Januari 2014

Kisah Pemilik Kebun

Bismillah...

Al Qur’an banyak sekali menyajikan kisah-kisah yang sangat patut untuk kita pelajari, pahami dan amalkan. Ada banyak kisah Nabi di dalamnya; Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, Nabi Yusuf, Nabi Yunus, Nabi Nuh, Nabi Ibraahim, Nabi Musa, Ashabul Kahfi, Ashabul Ukhdud, dan beberapa kisah lain yang tidak disebutkan namanya. Ada satu kisah dalam Al-Qur’an yang bila kita membaca dan memahaminya dengan baik maka mungkin akan kita pertanyakan lagi diri-diri ini apakah  pernah melakukannya dalam kehidupan kita atau tidak.

Dalam terjemahan Surah Al-Qalam ayat 17-33;

17.  Sesungguhnya Kami telah Menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah Menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
18.  Tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insyaa Allah”),
19.  Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
20.  Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita*.
*Maksudnya: Maka terbakarlah kebun itu dan tinggallah arang-arangnya yang hitam seperti malam.
21.  Lalu mereka panggil memanggil di pagi hari:
22.  "Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya".
23.  Maka pergilah mereka saling berbisik-bisik.
24.  "Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin masuk ke dalam kebunmu".
25.  Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
26.  Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),
27.  “bahkan tidak memperoleh apapun”**.
** mereka mengatakan Ini setelah mereka yakin bahwa yang dilihat mereka adalah kebun mereka sendiri.
28.  Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka: "Bukankah Aku Telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)***?"
*** yang dimaksud bertasbih kepada Tuhan ialah mensyukuri nikmat-Nya dan tidak meniatkan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Tuhan seperti; meniatkan tidak akan memberi fakir miskin.
29.  Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim".
30.  Lalu mereka saling berhadapan dan saling menyalahkan.
31.  Mereka berkata: "Celaka kita!; Sesungguhnya kita orang-orang yang melampaui batas".
32.  Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada ini, sungguh, kita mengharapkan ampunan dari Tuhan kita.
33.  Seperti itulah azab (di dunia). dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui****.
**** Allah menerangkan bahwa dia menguji penduduk Mekah dengan menganugrahi mereka nikmat-nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak sebagaimana Allah Telah menguji pemilik-pemilik kebun, seperti yang diterangkan pada ayat 17-33. Akhirnya Pemilik kebun itu insyaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukan Mekah.

pic source
Pemilik kebun tersebut sangat yakin bahwa mereka akan memetik hasil kebunnya itu di pagi hari, dan mereka tidak ingat untuk mengucapkan Insyaa Allah (Jika Allah menghendaki). Mereka pun malah punya niat untuk tidak memberikan sedikit hasil mereka kepada fakir miskin. Saat mereka tertidur maka Allah turunkan bencana di kebun mereka. Kebun mereka terbakar dan tidak ada sisa sedikitpun. Keesokan pagi, tercenganglah para pemilik kebun. Mereka pun saling menyalahkan. Mereka pun sadar mereka adalah orang-orang yang melampaui batas. Akhirnya pemilik kebun insyaf dan bertobat kepada Allah.

Kisah ini berkaitan dengan ‘akhlak’, bagaimanakah jika kita terlalu mengandalkan usaha saja tanpa menyertakan Allah di dalam setiap usaha kita. Terkadang diri ini terlalu sombong karena dengan usaha sendiri. Padahal darimana datangnya semua usaha dan keberhasilan? Semua datangnya dari Allah.

Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠


“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah (ATOM) dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)
Terkadang diri ini lupa untuk mengucapkan “Insyaa Allah”. Perkataan Insyaa Allah adalah salah satu bentuk kita menyertakan Allah dalam usaha-usaha kita. Keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang mampu membuat segalanya di dunia ini terjadi atau tidak terjadi. Semoga membaca kisah ini akan mengingatkan diri sendiri dan semoga orang lain pun mendapatkan manfaatnya. Segala yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah. 
"Segala yang benar datangnya dari Allah dan yang salah dari diri pribadi ini, semoga Allah mengampuni."


Hima Rain 

Rabu, 22 Januari 2014

Taiko: Sebuah Resensi dan Perbandingan Unsur Sejarah di dalamnya

Bismillah...

Taiko, salah satu karya besar  Eiji Yoshikawa yang merupakan salah satu novel berlatar belakang sejarah yang menceritakan seluk-beluk kehidupan panjang salah seorang pemersatu Jepang yang memiliki gaya kehidupan yang sangat unik dan menarik. Ini adalah sebuah karya yang sangat hebat. Eiji Yoshikawa mampu menceritakan kisah sejarah dengan bahasa sastra yang sangat indah dan mudah dimengerti. Secara tidak langsung novel ini membawa pembaca seakan-akan terbawa dalam suasana kehidupan Toyotomi Hideyoshi dari kecil hingga akhir hayatnya. Sekali membaca novel ini, kita akan penasaran dan terpengaruh dengan intrik-intrik kejadian yang disuguhkankan dalam novel Taiko ini.



Novel ini bisa menjadi salah satu referensi sejarah mengenai para pemersatu Jepang. Novel ini sangat bermanfaat terutama untuk mempelajari kebudayaan lampau Jepang pada saat itu pra Edo. Masa-masa peralihan pedang samurai ke senjata api, novel ini mendeskripsikan dan secara tidak langsung memperkenalkan watak-watak orang dan tindakan-tindakannya.  

Sinopsis

Menjelang abad ke-16, kekaisaran Jepang dalam keadaan kacau-balau dan keshogunan pada masa itu mengalami ketimpangan dan panglima-panglima perang berusaha saling memperebutkan kemenangan dan kekuasaan, di tengah-tengah ketimpangan tersebut muncul 3 tokoh besar yang nantinya akan berusaha mempersatukan Jepang. Nobunaga yang gegabah, tegas dan brutal ; Tokugawa, tenang, sabar, dan penuh perhitungan, dan ketiga Hideyoshi yang sederhana, halus dan cerdik. Dan orang ketiga inilah yang merupakan kunci cerita novel ini. Hideyoshi seorang anak yang lahir di Provinsi Owari, desa Nakamura adalah anak tengah keluarga petani bernama Yaemon. Hideyoshi lahir tahun 1536. Pada waktu muda sebelum mengabdi pada Nobunaga, Hideyoshi meninggalkan rumah dan berkelana. Ia hidup dan telah melakukan berbagai macam pekerjaan. Kemampuannya dalam melihat watak manusia semakin terasah berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun. Hiyoshi, nama panggilannya, bekerja sebagai pesuruh pada Hachisuka Koroku.

Kemudian ia mengabdi dan bekerja sebagai pesuruh yang bekerja untuk pemilik Istana Zudaji yang bernama Matsushita Naganori (alias Matsushita Takahei) dan putranya Matsushita Yukitsuna yang juga menggunakan nama alias yang sama seperti ayahnya (Matsushita Kahei).  Namun karena wataknya yang cerdik dan sederhana membuat orang banyak iri padanya sehingga ia difitnah dan diusir pergi dari Istana Zudaiji. Dalam masa mengelana itulah, Hiyoshi bertekad untuk mengabdi pada Nobunaga. Dan akhirnya, ia mampu dan berhasil menjadi pengabdi Oda Nobunaga, sang penguasa Owari.

Selama bekerja pada Nobunaga posisinya yang dulunya pembawa sandal kemudian menanjak dengan sangat cepat, dia ditugaskan di dapur kemudian menjadi petugas penjaga kayu bakar dan akhirnya diizinkan untuk menjadi pemimpin pasukan infantri. Dan namanya berubah menjadi Kinoshita Tokichiro. Tidak lama kemudian Kinoshita Tokichiro menikahi Nene, salah seorang anak abdi Nobunaga. Setelah menikahi Nene, Kinoshita Hideyoshi, perubahan nama kali kedua, membangun benteng di Sunomata dan menjadi pemimpin benteng tersebut.

Hideyoshi pun selama masa itu melakukan banyak sepak terjang yang sangat tidak diduga-duga karena perlawannya yang tanpa menggunakan peperangan melainkan melalui perundingan dan strategi dan taktik yang sangat sederhana namun berhasil. Bersama dengan Nobunaga, Hideyoshi berhasil menaklukkan benteng Inabayama. Kemudian memasuki Kyoto, dan mengabdi di bawah Shogun Yoshiaki. Pada saat berada di Kyoto, mereka berdua melakukan penguasaan di daerah Omi dan Echizen.  Karena melihat keadaan negeri yang sangat berantakan disebabkan tingkah sang shogun, bersama Nobunaga ia menjatuhkan Shogun. Nobunaga pun diangkat menjadi shogun kemudian membangun istana Azuchi di Omi. Dalam masa kekuasaan Shogun Nobunaga, Hideyoshi membangun dan menaklukkan beberapa benteng, yaitu benteng Nagahama, benteng Miki dan Tottori. Namun pada saat Hideyoshi melakukan  penaklukkan di  benteng Takamatsu, salah satu mantan pengikut setia Nobunaga yang sakit hati membunuh Nobunaga di kuil di Kyoto.

Pada saat itulah, Hideyoshi pun mengalahkan Mitsuhide di Yamazaki. Hideyoshi berperang melawan Shibata Katsuie yang menentangnya secara politik. Karier Hideyoshi melesat cepat dan ia memiliki jiwa memimpin. Bahkan dia berhasil menjadi pemimpin saat krisis. Ketika Nobunaga meninggal dibunuh Mitsuhide, dia mengobarkan semangat untuk menuntut balas. Tak cuma di situ, ketika Nabukatsu dan Nobutaka -anak kedua dan ketiga dari selir Nobunaga- saling berebut kekuasaan, Hideyoshi menengahi perselisihan (meski pun pada sisi lain yaitu untuk menyelamatkan dirinya) dengan mengangkat Samboshi, cucu Nobunaga dari (putra mahkota) Nobutada yang ikut meninggal bersama Nobunaga. Karena Samboshi masih bayi, maka Hideyoshi menjadi walinya.

Hideyoshi kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga, menyatukan Jepang dan kemudian menjadi wakil kaisar. 

~o0o~

Sebuah novel yang sangat tebal, sekitar 1140 halaman. Buku yang tidak mungkin dibaca dalam sekali duduk namun buku ini mampu membuat pembaca penasaran sebelum menyelesaikannya hingga akhir. Dalam novel ini terdapat beberapa nama yang betul-betul ada dalam sejarah. Novel ini termasuk salah satu literatur sejarah sehingga memiliki unsur sejarah yang cukup banyak. Di antaranya sang Taiko sendiri, yang dalam novel ini dikisahkan dari lahir hingga wafatnya. Toyotomi Hideyoshi merupakan sang pemersatu Jepang yang namanya tercatat dalam sejarah Jepang. Yang pada awalnya mengabdi pada Oda Nobunaga. Kemudian sang pelanjut cita-cita Nobunaga dan Hideyoshi yaitu Tokugawa Ieyasu.

Berdasarkan tokoh-tokoh yang ada selain di atas ada beberapa tokoh yang namanya memang tercatat dalam sejarah yaitu para pemimpin samurai, berikut;
  •  Imagawa Yoshimoto, pemimpin dan penguasa Provinsi Imagawa,  klan Imagawa. Yang memulai proses penyatuan Jepang namun ketika pasukannya berangkat menuju ibukota pada tahun 1560 pasukannya ditahan oleh Nobunaga yang pasukannya jauh lebih kecil.
  • Saito Dosan, penguasa provinsi Mino. Merupakan mertua dari Nobunaga. Ia menikahkan Nobunaga dengan putrinya dengan tujuan politik.
  • Hachisuka Hikoemon, dulunya Hachisuka Koroku, merupakan pengabdi Toyotomi Hideyoshi yang dahulunya merupakan pemimpin Hideyoshi sebelum masa jayanya.
  • Asai Nagamasa, Daimyo kedua dari keluarga Asai yang kemudian menjadi pemimpin klan Asai. Karena bersebrangan dengan Oda Nobunaga dia akhirnya dinikahkan dengan saudara perempuan Oda yg bernama Oichi pada tahun 1564 untuk menghindari perpecahan / pertempuran.
  •  Akechi Mitsuhide, penguasa provinsi Tamba. Merupakan pengikut Oda Nobunaga namun karena sakit hati dengan Oda Nobunaga membunuh Oda Nobunaga.
  • Shibata Katsuie, penguasa provinsi Echizen.
  • Mori Terumoto, penguasa provinsi-provinsi sebelah barat.
  • Shogun Yoshiaki, shogun yang memerintah sebelum Oda Nobunaga
Selain tokoh-tokoh sejarah, beberapa peristiwa penting pun terdapat di dalam novel ini, beberapa di antaranya;

  • Pertempuran melawan Imagawa Yoshimoto pada 1560, tuan tanah wilayah jalur pantai di sebelah timur Nagoya modern, ketika itu pasukannya berangkat menuju ibukota dan pasukan itu ditahan oleh pasukan yang lebih kecil di bawah Oda Nobunaga, yang letaknya sepanjang jalur perjalanan.
  • Pada tahun 1568, sewaktu Oda Nobunaga pergi ke ibu kota (Kyoto), Hideyoshi bekerja bersama-sama dengan Akechi Mitsuhide di Kyoto.
  • Pada 1571, diserangnya dan dibakar habisnya kuil-kuil di gunung Hiei oleh Oda Nobunaga.
  • 1573, ketika itu Oda Nobunaga bersama Toyotomi Hideyoshi bersama-sama menjatuhkan shogun Yoshiaki. 
  • Diangkatnya Oda Nobunaga sebagai Shogun.
  • 1580, Ishiyama Honganji di Osaka, berhasil ditaklukkan.
  • Pada bulan Juni 1582, ketika sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan Hideyoshi, Nobunaga bermalam di sebuah kuil di Kyoto, salah satu vassal seniornya Akechi Mitsuhide, yang sedang memimpin pasukan tambahan mrnuju tempat yang sama, tiba-tiba berbelok keluar jalur dan menyerang Nobunaga dan Nobunaga bunuh diri karena terluka di dalam amukan api.
  • Pada tahun 1583, Hideyoshi mendirikan Istana Osaka di bekas kuil Ishiyama Honganji.
  • Pada tahun 1585, Hideyoshi menjadi anak angkat Konoe Sakihisa sehingga bisa mendapat gelar Kampaku dari kaisar. Tahun berikutnya (1586), Hideyoshi menerima nama keluarga Toyotomi, menjalankan tugas sebagai Daijō Daijin dan melakukan konsolidasi kekuasaan.

Ada beberapa hal yang patut dicatat dari novel ini yaitu, perkembangan budaya yang terjadi pada masa Toyotomi Hideyoshi ini yaitu,
  1. Berkuasanya daimyo-daimyo di beberapa provinsi.
  2. Samurai pada waktu itu memegang kekuasaan yang sangat besar.
  3. Perkembangan agama Buddha dan beberapa-beberapa sekte-sekte yang  menyimpang dari ajaran Buddha pada waktu itu.
  4. Bushido (jalan samurai) merupakan pedoman yang sangat dijunjung tinggi samurai. Pada zaman ini Bushido betul-betul sangat berkembang dan digunakan para samurai-samurai dalam kesehariannya, beberapa di antaranya adalah kesetiaan dan kerja keras.
  5. Adanya peralihan penggunaan pedang samurai ke senjata api.

Menurut kesimpulanku, perbandingan sejarah dengan novel “Taiko” ini adalah terdapat latar belakang sejarah dan budaya yang cukup signifikan yang bisa diambil dari novel ini. Cakupan sejarah di  dalamnya sekitar 75 % dan sisanya memiliki unsur-unsur sastra yang lumayan banyak.

Kesan setelah membaca buku ini yaitu mengajarkan banyak hal dan juga sangat bermanfaat apalagi berfungsi ganda sebagai literatur sejarah dan novel. Selain unsur sejarah, banyak hal-hal yang bisa dipetik dari buku ini. Kerja keras, pengabdian, dan perjuangan abdi terhadap junjungannya. Dan juga mengenai "dasar kepemimpinan" yang dapat kita petik dari novel ini. Intinya, novel ini merupakan karya yang patut untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah Jepang.

Sumber:
Yoshikawa, Eiji. 2007. Taiko. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Beasley, W.G. 2003. Pengalaman Jepang: Sejarah Singkat Jepang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia


Hima Rain

Senin, 20 Januari 2014

Prasangka Baik, Yuk Membangunnya!

Bismillah...

Benar saja kata seorang teman tentang menjemput rindu, kadang rindu itu mesti dijemput untuk mencairkan segala yang selama ini beku dan keras tak beraturan, yaitu prasangka. Rindu itu komponen yang sedikit demi sedikit membentuk dua rasa yang mesti ada kehati-hatian di dalamnya karena bila dipupuk dengan prasangka tidak baik, maka pikiran akan menyokong kita untuk berpikiran buruk dan lama kelamaan mengajak hati untuk berbuat hal serupa. Prasangka itu terbangun atas dasar ketidaktahuan kita. Padahal pada dasarnya kita tidak punya hak untuk berprasangka tidak baik karena kita tidak mengetahui apa-apa, tidak ada yang kita ketahui dengan betul di dunia ini. Tidak ada kamera 24 jam yang kita punya untuk memonitori segala aktifitas di dunia ini. Kita punya keterbatasan yang tidak dipunyai Sang Rabb. Jadi apa gunanya berprasangka tidak baik. Terkadang apa yang kamu lihat belum tentu benar.

Sekarang bila yang terjadi adalah prasangka buruk dalam hati dan pikiran, bagaimana kita menghalaunya? Ada satu cara ampuh yang tidak lain dan tidak bukan dengan melakukan hal sebaliknya yaitu berprasangka baik. Mungkin ada yang pernah bertanya bagaimana caranya?? Terkadang malah ingin hati berprasangka baik, apa daya malah muncul bisikan prasangka tidak baik. Ada satu kata kunci yang mesti digarisbawahi nih, bisikan. Bisikan itu terkadang muncul dari sesuatu yang tidak ingin membuat kita baik jadinya upaya kerasnya terus-menerus mencoba melekat dari balik luar hati kita. Ingat hati itu punya suara, dan suara yang paling baik adalah dari hati. Terkadang kita harus mengenalnya dengan bak untuk mendengar suaranya hehehe.

Cara yang paling baik untuk membangun prasangka baik ada dua cara; 

  1. Tabayyun (konfirmasi), tanyakan kembali hal yang mengganggu hatimu. Ada kalanya menanyakannya langsung ke orang yang bersangkutan akan membuka semua tabir prasangka. Semua yang dikiranya buruk ternyata bukan itu yang terjadi. Sekali lagi, terkadang apa yang kamu lihat belum tentu benar. Pertanyakanlah, seperti kata pepatah Malu bertanya sesat di jalan. Pepatah yang cukup banyak manfaat yang bisa kita gali darinya. 
  2. Diam dan sabar. Kalau kita tak sanggup bertanya maka diam dan sabarlah. Diam bisa menjadi emas dan sabar bisa saja menghasilkan berlian. Kita tidak tahu maka ada baiknya kita diam. Diam akan menutup pintu untuk berprasangka tidak baik. Diam bisa pula menghalangi pula perkataan tidak benar. Diam pun harus disertai dengan sabar karena bila tak sabar maka diam akan berhenti menjadi diam. Jika diam tak lagi menjadi diam maka hati yang sedari tadinya sabar dan tenang maka bisa saja disisipi suara-suara tidak benar yang menjerumuskan. Fiuh...
pic source

Yah berprasangka baik itu melatih dan menjaga hati untuk selalu bersih. Hati bersih maka pikiran pun bersih, duo komponen yang saling berkait.  Yuk berprasangka baik, bismillah~


Hima Rain

Selasa, 14 Januari 2014

Shalat Sekenanya

Bismillah...

Berikut ini adalah potongan cerita yang kukutip dari Majalah Ar-Risalah, semoga bermanfaat dan sebagai bahan muhasabah, cekidot~

......o0o......

Pada suatu sore hari, hampir satu jam selepas Ashar, di masjid dekat kampus masih ada beberapa orang yang tengah menunggu waktu dimulainya sebuah kajian rutin.


Sementara, seorang laki-laki dewasa masuk tergopoh-gopoh sambil menyeka air bekas wudhu di mukanya. Masih sambil berjalan, dia mengurai lintingan celana jins warna birunya. Sejurus kemudian mengikatkan handuk kecil yang semula ada di pundaknya pada bagian dengkul yang terbuka menganga. Mendadak langkahnya berhenti, dia memutar kuncung topinya ke belakang, lalu bertakbir dan memulai shalat ashar.

Sungguh pemandangan yang nampak aneh, kostumnya -celana jin biru belel, dengan ikatan handuk di dengkulnya, kaos oblong dengan gambar dan bertuliskan BOB MARLEY, serta topi yang kuncungnya dibalik di belakang- sulit dipercaya kalau lelaki dewasa itu tengah menjalankan shalatnya. Apalagi gerakannya yang cepatnya tak terduga. Sesekali pandangannya datar ke depan, atau juga sedikit mendongak ke atas ke arah sudut antara eternit dan dinding masjid. Belum tiga menit, 'drama shalat kilat' itu pun usai. Pelakunya menyudahi dengan salam yang juga tak sampai sempurna, bersambung dengan tengadah tangan sebentar kemudian diusapkan ke muka (berdoa) seraya berdiri dan ngeloyor keluar lagi. 'Drama' seperti itu, mungkin para pembaca juga pernah menyaksikannya.

Kini marilah kita bandingkan, bagaimana di antara para pendahulu kita melaksanakan kewajiban serupa. Ketika ditanya tentang bagaimanakah dia melaksanakan shalat, Hatim Al-Asham menceritakan, "Jika tiba waktunya shalat, aku sempurnakan wudhuku dan segera pergi ke tempat aku ingin shalat di dalamnya."

"Kemudian aku berdiri untuk shalat, dan aku jadikan Ka'bah ada di hadapanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut ada di belakangku. Aku bayangkan seolah-olah bahwa shalatku ini adalah shalat terkahir bagiku. Aku berdiri dalam shalat dalam keadaan harap dan takut."

Dalam kesempatan lain dia juga berkata, "Aku berdiri karena untuk melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir memulainya dengan niat , membaca takbir dengan penuh pengagungan, dan membaca AlQuran dengan taril serta tafakur. Aku rukuk dengan khusyu', sujud dengan tawadhu', duduk tasyahud dengan sempurna dan mengucap shalat dengan niat. Aku menyudahi shalat dengan ikhlas karena Allah, dan aku pun merenungkan nasibku dengan perasaaan takut; khawatir jika Allah tidak menerima shalatku."

Manakah yang lebih baik antara yang pertama dan yang kedua? Kiranya kita bisa menyimpulkannya.

Penting kita catat, bahwa di samping shalat memang sebuah kewajiban yang harus kita tegakkan, ia juga merupakan syiar yang paling tinggi dari agama ini. Jika itu kita rendahkan dengan cara mengerjakan sekenanya, niscaya jatuh dan rendah pula harga diri pribadi dan agama kita ini. Wallahu A'lam.

sumber: Majalah ar-risalah no.70/Th.VI hlm. 27

Kamis, 02 Januari 2014

Posuto Kaado


Bismillah...

koleksi postcardnya Honobono

2010, saya untuk kali pertama menulis dan mengirim postcard. Umm menulis di postcard mesti singkat dan hemat soalnya spacenya kecil, ibaratnya menulis di twitter kali ~fufufu. Waktu itu seperti jumat tiap pekannya ada benkyoukai (klub belajar pekanan di sasjep) yang diisi oleh Kaneda sensei dan tema pekan itu adalah menulis postcard.

Kaneda sensei membagi-bagikan postcard kepada kami semua, eh waktu itu saya kebagian postcard gambar apa ya, lupa. Umm yang pastinya setelah itu kami diajar cara nulisnya soalnya saya betul-betul buta soal postcard, dapat surat saja jarang apalagi postcard. Well ternyata menulisnya gampang di kolom kiri untuk isi dan kolom sebelahnya lagi untuk alamat. Gampang sih memang tapi menulis isinya itu yang rada buntu. Selama setengah jam berkutat di buku dan kamus, fiuh akhirnya jadi juga walaupun isinya seperti surat yang ditulis anak-anak.

Nah setelah itu kami juga dibagikan secarik kertas yang di dalamnya berisi alamat seseorang dalam tulisan Jepang. Ternyata postcard yang kami tulis tidak hanya buat latihan nulis tapi betul-betul dikirim. Bikin serprais banget nih sensei. Yang lebih mengejutkan saya baru tau kalo ternyata mengirim postcard ke Jepang murah eui cuma 10ribu perak. Wow omoshiroii... Tepat beberapa bulan kemudian saya mendapat balasan dari Mao san. Dia excited dan terkejut dengan postcard yang saya kirim. Hehehe dia tidak sangka saya bisa menulis kanji sebagus itu (padahal itupun nulisnya dengan penuh keringat dan usaha keras hihihi) 

kata Mao san ini adalah pemandangan kota Kobe tepatnya prefektur Hyougo
Yuk, kita baca isinya sembari belajar cara bacanya juga, cekidot!

始めまして、谷本真央です。「真央って呼んでね」。
Hajimemashite, Tanimoto Mao desu. “Mao~tte yonde ne.
Salam kenal, Saya Tanimoto Mao, panggil saja Mao.

ポストカードありがとう!!とても字がきれいだったので、びっくりしました!
Posutokādo arigatō!! Totemo ji ga kireidattanode, bikkuri shimashita!
Terima kasih postcardnya. Saya terkejut karna hurufnya cantik sekali.. 

私は、今年の6月で22歳になります。リリンさんより1っ年上です。表の絵は、日本 に兵庫県神戸市にある神戸港の絵です。夜になると、夜景がとてもきれいだよ。日本へ来た時は、案内するよ~
Watashi wa, kotoshi no 6 gatsu de 22-sai ni narimasu. Ririn-san yori 1tsu toshiue desu. Hyō no e wa, Nihon ni hyōgoken kōbeshi ni aru Kōbe-kō no e desu. Yoru ni naru to, yakei ga totemo kireida yo. Nihon e kita toki wa, annai suru yo ~
Bulan Juni tahun ini saya berumur 22 tahun. Setahun lebih tua dari ririn. Gambar di kartu ini adalah pemandangan di Jepang, Kota Kobe Prefektur Hyougo. Kalau malam hari, pemandangannya sungguh cantik lho. Kalo ke Jepang nanti saya akan memandumu~

試験頑張ってね!!応援しています!
Shiken ganbattene! ! Ōen shite imasu!
Semangat untuk ujiannya, saya mendukungmu!

~o0o~


Setelah momen yang cukup lama itu saya dapat postcard lagi, kali ini bukan dari Jepang. Tapi dari seorang teman blog yang pernah ke Jepang dan sangat suka Jepang beserta Furukawa Yuki-nya. Katanya dia dapat postcard dan iseng ngirim ke saya. Senang dooong apalagi gambar postcardnya itu kirei sekali, seperti begron blog saya dulu. Ah jadi rindu ungu-ungu itu.

hokkaido mo ikitainaa~

Alhamdulillah sudah saya terima fufufu
Umm senang deh, mau dapat postcard lagi. Ada yang mau ngirimin saya?? Saya terima dengan senang hati hehehe... 


Hima Rain

Rabu, 01 Januari 2014

愛 Aishiteru

Bismillah...

Kalo saya sebut dorama, itu berarti drama Jepang. Semenjak beberapa tahun lalu saya coba mencari judul-judul dorama untuk kunonton, untuk latihan dan pengingat bahasa Jepangku yang kian berkarat. Dalam dorama banyak vocabulary dan kalimat-kalimat yang bisa kupelajari khususnya bahasa sehari-hari. Selain itu rata-rata banyak pesan yanng disampaikan dalam ceritanya, beda banget dengan drama korea atau Indonesia.

Nah di penghujung tahun 2013 ini ternyata ada satu kerjasama Indonesia Jepang dalam rangka 55 tahun persahabatan dua negara ini, yaitu Ftv spesial Indonesia Jepang yang dibuat sama Fuji Tv Jepang dan DNA Production di Indonesia. Pemain-pemainnya pun otomatis dari kedua negara ini, dibintangi oleh Minami Keisuke dan Prisia Nasution . Ftv ini judulnya Aishiteru, 28 Des malam di Kompas Tv. Bagaimana ceritanya?

gambar dari twitter Aishiteru
Kisah awal bersetting di Jepang dan dimulai dengan cerita kepergian seorang warga sipil, Matsumoto Tamotsu, yang ditugaskan sebagai pasuka infantry dan dikirim ke Indonesia pada PDII. Setelah itu kisah pun beralih waktu ke masa depan di mana Jepang dan Indonesia telah bersahabat, 55 tahun. 

Seorang wartawan Jepang yang tidak lain adalah Matsumoto Satoshi, cucu dari Matsumoto Tamotsu, ditugaskan ke Indonesia untuk meliput perayaan 55 tahun persahabatan Indonesia-Jepang, dan ternyata penugasannya itu ia manfaatkan pula untuk mencari tahu keberadaan kakeknya yang hilang di Indonesia. Ia pun bertemu dengan Mediana, seorang mahasiswa dan pegawai magang dan saat itu ia menjadi guide dari Satoshi. Di sinilah kisah mereka pun terjalin.

~o0o~

Setelah membaca sinopsis singkatnya, apa kesanku terhadap ftv ini?

Ada Yang Kurang Kusukai

Alur. Menurutku ada beberapa bagian pada alur balik yang sedikit mengganggu, kisah masa lalu itu terkadang ada yang muncul tiba-tiba. Seakan-akan bagian itu muncul tanpa intro dan itu membuat saya sedikit kebingungan. Walau pada akhirnya saya mengerti dan ikut arus cerita. Bagian akhir kisah kuanggap sedikit 'menggantung', kupikir durasinya kurang untuk menunjukkan dan menyempurnakan konflik-konflik dalam ftv ini.

Satu lagi kekurangan kecil dari ftv ini adalah subtitlenya. Ada bagian-bagian saat Prisia bicara sama teman-temannya dan youknowlah Indonesia itu kebanyakan bahasa gaulnya, alhasil subtitle Jepangnya jadi kurang jelas. Beberapa tidak diartikan padahal menurutku kata-kata itu bisa diartikan dalam bahasa Jepang walaupun tidak mesti sama persis. Ada pula yang bahasa Jepangnya itu panjang, eh malah substitle Indonesianya cuma satu kalimat. Uhm, translator desune.

Hehehe saya bawel ya kalo soal bahasa, beginilah saya suka protes kalo ada yang kurang apalagi soal eyd dan kawan-kawannya. Ya sama-sama belajar. Tapi selain itu semua, ftv ini tetap memberi banyak manfaat karena membuka ingatan kembali dengan bahasa Jepang serta kerinduan untuk bisa fluent berbahasa Jepang seperti tokoh imaji yang diperankan Prisia Nasution itu.  

Tapi Pastinya Banyak Yang Kusukai

Dari segi cerita, kisahnya menarik yaitu berlatar belakang sejarah waktu Jepang masuk ke Indonesia dia akhir perang dunia II. Saya suka sejarah dan melihat trailernya beberapa kali bikin saya penasaran dan makin tertarik. Love story memang selalu menarik apalagi kisah cinta mereka itu lintas negara dan budaya. 

Ftv ini pun tak lupa menyuguhkan keindahan alam Jepang dan Indonesia. (capture youtube)


Untuk penyampaian pesan moral saya beri dua jempol, pesan saling tolong-menolong itu tersampaikan cukup lekat padaku. Menolong seseorang tanpa pandang bulu, tanpa memikirkan siapa ia dan darimana ia berasal. Ftv ini pun berusaha untuk menyampaikan budaya masing-masing negara. Orang Indonesia itu identik dengan ramah, perhatian, dan suka senyum. Sedangkan orang Jepang itu kurang suka pedas dan makanan berbumbu, dan lagi mereka tidak suka ketidakdisiplinan. Menonton ftv ini saya teringat dengan beberapa orang Jepang yang pernah kutemui dan mereka rata-rata seperti itu. Yah banyak sih budaya lain yang mereka tonjolkan dalam ftv ini tapi ini yang paling kuingat hahaha. 

Satu hal yang kusuka juga dari ftv ini saat Prisia menyebutkan kata "Totemo Kawaii" saat melihat Sarubobo (jimat), entahlah keren sekali terdengar di telingaku fufufu.

~o0o~

Walaupun ada beberapa kekurangan hehehe tapi saya suka kok dengan ftv ini, film dan drama tentang dua negara itu selalu menarik, semoga kerjasama seperti ini ada lagi dan makin lebih baik hasilnya. Sekedar info Aishiteru bakal ditayangkan ulang hari ini pukul 10.00 WIB di Kompas Tv. Nonton yuk dan ceritakan kesanmu tentang ftv ini.



Hima Rain