TUTORIAL

Selasa, 17 Mei 2016

Ekspektasi? Sesuaikah? Sesuaikan!

Bismillah...

Ekspektasi. Harapan dan pikiran positif yang biasa kita lihat sehari-hari kadang bisa melenceng dari sumbunya. Hukum gravitasi berkata sesuatu yang dilempar ke atas akan selalu jatuh ke bawah. Ilmu ini jelas pastinya. Sama halnya seperti air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tapi ada hal-hal yang terjadi di luar nalar dan tidak terjadi sesuai kehendak kita. Itulah kehendak Allah.

"Sekuat apapun tenaga, sebesar apapun tekad, dan sebanyak apapun usaha yang dilakukan, jika Allah menghendakinya tidak terjadi maka tidak akan terjadi."

Itu selalu terjadi padaku, intensitasnya pun meningkat. Saya punya rasa percaya diri yang tinggi, pikiran positif yang banyak dan bahkan meluap-luap kalau sudah berhubungan dengan pekerjaan. Ya, saya selalu berpikir semua hal yang kukerjakan ini akan selalu selesai dengan baik, tepat waktu, dan sempurna. Nyatanya banyak yang tidak terjadi sesuai keinginanku.

Harapanku selalu tinggi, namun satu hal yang selalu luput, di mana posisi Allah saya letakkan saat saya mengerjakan semua ini. Saya sering lupa untuk selalu melibatkan Allah di setiap semua hal yang kulakukan. Tidak jarang semua ekspektasi yang kubangun runtuh dalam supersekian detik. Setelahnya pun saya masih seperti itu. Masih hidup dalam lingkaran kepercayaan diri yang terlalu berlebih. Ego lalu menduduki pikiran dan kebanggaan lalu mulai menyelimuti hati. Allah pun mulai menegur dengan banyak cara. Bermunculanlah rasa kecewa yang melelahkan...


Apa yang sebenarnya saya cari? Kebanggaan? Keinginan untuk diakui? Sekali lagi rasa percaya diri akan luluh di bawah kehendak Allah. Saya pum merasa ganjil dan ada hal yang mesti diluruskan dan dibawa kembali ke jalannya. Saudariku selalu berpesan, "Tempatkan Allah pada apapun yang kamu kerjakan, tanyakan; apa ini yang Allah ridhoi, jika yakin jalankan lalu jika kamu ragu tinggalkan".

Jadi sekuat dan setekad apapun yang kamu kerjakan semua itu akan ditentukan kejadiannya oleh Allah. Mungkin inilah kesombongan, menumpu diri dengan kekuatan dan kepercayaan diri. Nasehat dari diriku untuk diriku yang tersesat ini. Semua hal yang melibatkan kebanggaan dan keakuan hanya akan membuat diri ini lelah dan tidak pernah tenang dengan hidup. Satu-satunya cara adalah lupakan itu lalu jalan hidup seceria dan sebahagia mungkin lalu selalu libatkan Allah disemua aktifitasmu maka semua akan terasa begitu sempurna. \(^_^)/


Hima Rain

Kamis, 12 Mei 2016

Arah

Dua hal yang saya tahu
Kau di utara dan aku di selatan

Cuma mimpi yang mampu memutar lalu
Menemukan kita di tengahnya

Lalu dengan semua ketidaksengajaan mimpi itu
Aku pun berharap

Selasa, 10 Mei 2016

Resep Biskuit Kentang Keju

Bismillah...

Kemarin habis posting di instagram foto biskuit kentang hehehe, hari ini mau posting foto plus resep cara buatnya di blog. Biskuit-biskuit ini bertumpuk banyak di rumah setelah saya dan adik saya masuk rumah sakit selama sepekan (nanti saya ceritakan ini di lain waktu). Iya kami dibawakan begitu banyak biskuit dan karena sudah bosan dimakan jadinya diolah menjadi lebih menarik dan menarik selera.
Mari kita simak yuk...




Pertama-tama siapkan bahannya, apa saja itu?



1. Biskuit Gabin
2. Kentang yang telah digoreng dan ditumbuk
3. Keju, potong kotak kecil
4. Wortel, potong kotak kecil lalu rebus
5. Daun bawang, iris tipis
6. Bawang merah, bawang putih cincang halus
7. Gula, garam, penyedap rasa, dan merica secukupnya
8. Tepung terigu dan tepung kanji
9. 2 butir telur
10. Sedikit air
11. Minyak untuk menggoreng


Tahap kedua, campurkan semua bahan kecuali tepung terigu, kanji dan air. Aduk merata, lalu masukkan masukkab perbandingan campuran tadi dan terigu dan kanji dengan perbandingan 1:1:1. Aduk lalu tambahkan sedikit air. Aduk kembali hingga agak mengental dan padat seperti digambar di bawah ini.



Tahap ketiga, oles adonan isi ke atas gabin sekitar tiga sendok makan, ratakan lalu tumpuk dengan sepotong gabin lagi, lakukan hingga gabin dan adonan isi habis.



Sisihkan,



Tahap keempat, mari kita buat lapisan krispinya. Campurkan 10 sendok tepung terigu dengan 2/3 gelas air, beri sedikit gula, garam, dan merica lalu aduk hingga rata dan cair seperti di gambar.



Tahap terakhir, panaskan minyak. Masukkan biskuit tadi ke dalam adonan tepung cair tadi baluri keseluruhannya lalu goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat, tiriskan, lalu sajikan dengan membelah dua biskuit.



Siap disantap... Mudah bukan cara membuatnya? Bisa kamu praktekkan di akhir pekan untuk sarapan atau cemilan di sore hari. Makin enak lagi bila disantap dengan jus segar yang dingin hehehe. Selamat mencoba~


Hima Rain

Sabtu, 07 Mei 2016

Menelusuri Kalimat Demi Kalimat dalam BUMI

Bismillah...

Tidak henti-hentinya saya menatapnya melalui rak buku saat tiap kali saya masuk di ruang ini. Penasaran selalu terbayang apa dan bagaimana, apakah tampilan luarnya sebagus isi di dalamnya?

.....o0o....

Bumi

Karya Tere Liye yang entah buku keberapa judul ini. Setahu saya karya Tere Liye itu banyak dan bagus-bagus. Saya sudah membaca judul ini, tetapi sebelumnya saya membaca karya fenomenal beliau berjudul "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin". Melalui karya ini saya " jatuh cinta" dengan Tere Liye. Ada juga novel beliau yang saya baca kali pertama yaitu Hafalan Shalat Delisa, kisah fiksi tentang seorang anak korban tsunami Aceh tahun 2006 yang ternyata Best Seller dan dibuat layar lebarnya, Sugoi~


Bumi

Awalnya kukira ini novel akan bercerita seperti novel Daun Jatuh~, tapi ternyata di luar dugaan awalku saat baca endorsementnya berubah tepat saat memasuki bab dua. Novel ini berkisah tentang seorang anak yang bernama Raib yang bisa menghilangkan dirinya dengan menelungkupkan kedua tangannya ke wajah. Ya, ia benar-benar bisa menghilang, ini bukan kalimat kiasan atau perumpamaan di buku -buku sekolah. Saya tertipu membaca ulasan singkat di belakang sampul buku. Rasa tertipu ini yang memacu untuk menamatkan buku ini.
Rasa penasaran sudah mulai bertambah saat memasuki bab ketiga lalu kemudian makin melesat hingga bab-bab selanjutnya. Kisah anak bernama Raib (nama akrab dalam novel ini Ra, maka mari kita sebut Ra mulai sekarang) ini merangsang adrenalin kita untuk mempersiapkan cemilan dan minuman sebanyak mungkin di depan meja hanya untuk dilahap bersama dengan buku ini hehehe. Ra dikisahkan adalah anak dengan kekuatan spesial yang hidup di salah satu bagian dunia yang bernama Bumi, di novel ini Bumi adalah salah satu bagian dari empat bagian dunia selain Bulan, Bintang, dan Matahari. Ketiga sisa lainnya itu katanya juga merupakan judul-judul tetralogi setelah novel Bumi.


Ra memiliki kekuatan menghilang seperti namanya 'raib', kekuatan memukul dahsyat, berpindah dengan sangat cepat, menyerap cahaya, dan juga menghilangkan apapun yang dikehendakinya. Ra adalah anak klan Bulan, keturunan salah satu ksatria terhebat klan itu. Dan Ra yang mewarisi darah klan terhebat itu ingin dibawa dan dilatih oleh Tamus, panglima lama dari Klan Bulan. Awal semua rahasia kemudian terbuka satu persatu sejak kemunculan Tamus. Belum lagi rangkaian kisah teman-teman Ra yang juga memberi kejutan-kejutan tak disangka di tiap babnya. Nah, untuk lanjutan kisahnya kalian bisa baca sendiri novel Bumi ini, insyaa Allah bagus.. bagus.. dan bagus.

Bumi

Pendapatku tentang novel ini cukup memuaskan apalagi bagian akhirnya sangat bikin puas menurutku. Tidak menggantungkan pembaca, menghilangkan rasa penasaran berlebihan tetapi di sisi lain membuat tidak sabar untuk membaca tetralogi lainnya. Kesan pertama yang muncul saat baca novel ini mengingatkanku dengan film berjudul The Giver atau Divergent, tema mereka sama-sama tentang klan, faksi, atau pembagian manusia. Namun selanjutnya kesan ini akan memudar seiring semakin jauhnya bab yang kubaca. Novel ini mau kuberi rate tinggi yaitu 8 dari 10 bintang. Alhamdulillah novel yang bagus. Mari membaca lanjutan kisah Raib dan kawan-kawan di tetralogi selanjutnya.

Hima Rain